De Djawatan Banyuwangi 2026: Tiket, Jam Buka, Hutan Trembesi, dan Panduan Lengkap

De Djawatan merupakan salah satu tempat wisata alam paling khas di Banyuwangi. Destinasi ini terkenal karena deretan pohon trembesi berukuran besar dengan cabang melebar, akar yang kuat, serta lumut yang menempel pada sebagian batang dan ranting. Saat cahaya matahari masuk di antara kanopi pepohonan, suasananya terlihat seperti hutan dalam cerita fantasi.

Lokasinya berada di Benculuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Kawasan ini sebenarnya memiliki sejarah panjang sebagai bagian dari pengelolaan kehutanan dan pernah dimanfaatkan sebagai Tempat Penimbunan Kayu. Kini De Djawatan berkembang menjadi salah satu wisata Banyuwangi yang banyak dikunjungi karena suasananya teduh, akses mudah, dan sangat menarik untuk fotografi.

Read More

Kunjungan ke De Djawatan tidak membutuhkan waktu satu hari penuh. Sekitar satu hingga tiga jam biasanya sudah cukup untuk berjalan di bawah pohon trembesi, mengambil foto, menikmati suasana, dan beristirahat. Berikut panduan De Djawatan Banyuwangi 2026 mulai dari sejarah, lokasi, harga tiket, jam buka, kondisi kawasan, fasilitas, wisata terdekat, hingga akses dari berbagai kota.

Sekilas Tentang De Djawatan

De Djawatan berada di kawasan hutan yang dikelola Perhutani KPH Banyuwangi Selatan.

Daya tarik utamanya berupa pohon-pohon trembesi berukuran besar yang sudah tumbuh sejak lama. Sebagian pohon diperkirakan telah berusia puluhan hingga ratusan tahun.

Kanopi trembesi yang lebar membuat sebagian kawasan terasa teduh bahkan ketika matahari cukup terik.

Bentuk batang, ranting besar, lumut, dan susunan pohon yang rapat menciptakan pemandangan yang berbeda dari hutan produksi biasa.

Karena tampilannya tersebut, De Djawatan sering dibandingkan dengan hutan fantasi dalam film The Lord of the Rings.

Walaupun perbandingan itu membuat destinasi semakin populer, keunikan sebenarnya justru berasal dari sejarah penggunaan kawasan dan keberadaan pohon trembesi yang masih terjaga.

De Djawatan kini menjadi salah satu tempat wisata Banyuwangi yang mudah dikunjungi karena letaknya tidak jauh dari jalur utama menuju Banyuwangi bagian selatan.

Lokasi dan Alamat Lengkap

Alamat: Purwosari, Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur 68482.

Lokasinya berada sekitar 30–35 kilometer dari pusat Kota Banyuwangi.

Perjalanan menggunakan kendaraan pribadi umumnya membutuhkan waktu sekitar 45 menit hingga satu jam tergantung kondisi lalu lintas dan titik keberangkatan.

De Djawatan berada tidak jauh dari pertigaan Benculuk dan jalur utama yang menghubungkan kawasan selatan Banyuwangi.

Karena lokasinya berada di kawasan permukiman dan tidak jauh dari jalan besar, akses menuju tempat ini jauh lebih mudah dibanding sejumlah wisata alam Banyuwangi yang membutuhkan perjalanan melalui pegunungan atau jalan perkebunan.

Bagi pengunjung dari arah Jember, lokasi De Djawatan juga cukup mudah dicapai sebelum masuk lebih jauh ke pusat Banyuwangi.

Sejarah De Djawatan Benculuk

Kawasan De Djawatan dulunya berkaitan erat dengan aktivitas kehutanan.

Tempat ini pernah digunakan sebagai Tempat Penimbunan Kayu atau TPK. Kayu hasil hutan dari wilayah sekitar dikumpulkan sebelum selanjutnya dikirim ke pembeli atau lokasi lainnya.

Pohon trembesi ditanam untuk memberikan naungan sehingga kayu yang disimpan tidak terus-menerus terkena panas matahari maupun hujan.

Pada masa lalu, jalur kereta juga pernah berada di kawasan Benculuk dan digunakan untuk mendukung aktivitas pengangkutan.

Jejak penggunaan kawasan tersebut menjadi bagian penting dari sejarah De Djawatan.

Nama “De Djawatan” sendiri berkaitan dengan istilah Djawatan Kehutanan, nama lembaga kehutanan pemerintah pada masa sebelumnya yang kemudian berkembang menjadi Perhutani.

Perubahan fungsi dari kawasan penimbunan kayu menjadi destinasi wisata membuat tempat ini mempunyai cerita yang lebih panjang daripada sekadar hutan untuk fotografi.

Hal yang Membuat De Djawatan Populer

Pohon Trembesi Berukuran Besar

Pohon trembesi menjadi daya tarik utama dan alasan sebagian besar wisatawan datang.

Batangnya besar, percabangannya melebar, dan pada beberapa pohon terdapat lumut yang membuat tampilannya semakin unik.

Ketika dilihat dari sudut tertentu, batang dan cabang terlihat seperti membentuk lorong alami.

Kondisi tersebut membuat De Djawatan menjadi salah satu lokasi favorit fotografi di Banyuwangi.

Kanopi Hutan yang Rindang

Cabang trembesi tumbuh melebar dan saling bertemu sehingga menciptakan kanopi yang cukup rapat.

Bagian bawah hutan terasa teduh dan suhu biasanya lebih nyaman dibanding area terbuka di sekitarnya.

Pengunjung dapat berjalan santai tanpa terus-menerus terkena sinar matahari langsung.

Hal ini membuat De Djawatan cocok dikunjungi bersama keluarga, terutama jika tidak ingin melakukan aktivitas fisik berat.

Cahaya Matahari di Antara Pepohonan

Salah satu kondisi terbaik untuk fotografi terjadi ketika sinar matahari masuk di sela-sela ranting dan dedaunan.

Efek cahaya tersebut membuat dimensi pepohonan terlihat semakin kuat.

Pagi dan sore biasanya menjadi waktu yang paling menarik.

Datang pada hari cerah juga memberikan peluang lebih besar mendapatkan pencahayaan yang baik.

Lumut pada Batang dan Cabang

Sebagian trembesi memiliki lumut dan tanaman kecil yang tumbuh pada batang atau percabangannya.

Detail tersebut membuat pohon terlihat lebih tua dan memberikan karakter alami yang kuat.

Namun pengunjung sebaiknya tidak memanjat, menggores, atau merusak batang pohon hanya untuk mendapatkan foto.

Kelestarian pohon menjadi bagian utama yang harus dijaga jika kawasan ingin tetap menarik dalam jangka panjang.

Area yang Cocok untuk Fotografi

De Djawatan cukup populer sebagai lokasi foto keluarga, perjalanan wisata, hingga foto pasangan.

Pemotretan profesional seperti prewedding juga pernah banyak dilakukan di kawasan ini.

Jika melakukan sesi profesional, tanyakan terlebih dahulu apakah terdapat aturan, izin, atau biaya tambahan dari pengelola.

Bagi wisatawan biasa, kamera ponsel sudah cukup untuk mendapatkan foto menarik karena karakter hutannya memang sangat kuat.

Untuk menemukan pilihan fotografi alam lainnya, wisata Banyuwangi 2026 mempunyai banyak destinasi dengan karakter yang berbeda.

Aktivitas yang Bisa Dilakukan

Aktivitas utama adalah berjalan santai menyusuri kawasan hutan trembesi.

Pengunjung dapat berhenti di beberapa titik untuk mengamati bentuk pohon, mengambil foto, atau menikmati suasana.

De Djawatan juga cocok untuk perjalanan keluarga karena sebagian besar aktivitas tidak membutuhkan kemampuan fisik khusus.

Pada periode tertentu terdapat aktivitas atau wahana tambahan seperti naik kuda dan kendaraan wisata. Ketersediaannya dapat berubah sehingga jangan menjadikan wahana tersebut sebagai alasan utama kunjungan.

Fotografi tetap menjadi aktivitas paling populer.

Pengunjung yang menyukai suasana tenang dapat datang pagi pada hari kerja ketika jumlah wisatawan biasanya lebih sedikit.

Untuk perjalanan yang lebih lengkap, De Djawatan dapat dikombinasikan dengan berbagai wisata alam Jawa Timur di bagian selatan Banyuwangi.

Harga Tiket De Djawatan 2026

Harga tiket masuk De Djawatan masih tergolong terjangkau.

Sebagai gambaran tarif terbaru yang banyak digunakan:

Tiket masuk: sekitar Rp7.500 per orang.

Biaya parkir umumnya dibedakan berdasarkan kendaraan.

Sepeda motor: sekitar Rp2.000.

Mobil: sekitar Rp5.000.

Harga wahana atau aktivitas tambahan, jika tersedia, dihitung terpisah.

Tarif tersebut dapat berubah mengikuti kebijakan pengelola sehingga sebaiknya siapkan dana tambahan dan periksa harga terbaru ketika tiba.

Dengan tarif masuk yang relatif rendah, De Djawatan menjadi salah satu pilihan wisata murah Banyuwangi yang dapat dikunjungi tanpa anggaran besar.

Jam Buka dan Waktu yang Disarankan

Jam operasional De Djawatan umumnya berada pada kisaran:

08.00–16.30 WIB.

Jam tersebut dapat berubah saat terdapat pemeliharaan, kegiatan khusus, kondisi cuaca tertentu, atau kebijakan pengelola.

Waktu terbaik datang adalah pagi sekitar pukul 08.00–10.00 WIB.

Pada pagi hari, suhu masih nyaman dan kawasan belum terlalu ramai.

Pilihan berikutnya adalah sekitar pukul 14.30–16.00 WIB ketika cahaya matahari mulai lebih rendah dan menembus celah pepohonan.

Siang hari tetap dapat dikunjungi karena kawasan cukup rindang, tetapi pencahayaan foto biasanya lebih keras di beberapa titik terbuka.

Jika ingin mengambil foto tanpa banyak pengunjung lain, hari kerja lebih nyaman daripada akhir pekan.

Kondisi Kawasan Saat Berkunjung

De Djawatan bukan kawasan trekking berat.

Sebagian besar pengunjung dapat menjelajahi area utamanya dengan berjalan santai.

Permukaan tanah pada beberapa bagian masih alami sehingga setelah hujan dapat menjadi lembap atau licin.

Saat musim kemarau, debu dapat muncul di bagian yang banyak dilalui kendaraan maupun pengunjung.

Pohon trembesi memberikan banyak area teduh, tetapi tetap gunakan perlindungan dari matahari jika berencana tinggal cukup lama.

Anak-anak dapat diajak berkunjung dengan pengawasan.

Lansia juga relatif dapat menikmati kawasan karena tidak membutuhkan pendakian panjang, meskipun kondisi permukaan tanah tetap perlu diperhatikan.

Fasilitas yang Tersedia

Sebagai destinasi wisata yang sudah dikenal luas, fasilitas dasar tersedia di sekitar De Djawatan.

Pengunjung dapat menemukan area parkir, toilet, tempat ibadah, tempat duduk, warung makanan dan minuman, serta sejumlah fasilitas pendukung wisata.

Ketersediaan wahana tambahan dapat berubah.

Karena kawasan wisata tidak terlalu jauh dari Benculuk, kebutuhan sederhana juga relatif mudah ditemukan di sekitar permukiman.

Tetap bawa air minum sendiri jika datang pada hari yang panas.

Kawasan ini lebih mengutamakan hutan trembesi sebagai daya tarik, bukan fasilitas rekreasi dalam jumlah besar.

Parkir dan Akses Kendaraan

De Djawatan dapat dicapai dengan motor, mobil, maupun kendaraan rombongan.

Area parkir tersedia di sekitar pintu masuk.

Pada akhir pekan dan musim liburan, kawasan parkir dapat lebih ramai.

Datang pagi memberikan keuntungan karena kondisi parkir biasanya lebih mudah sekaligus kawasan belum terlalu dipenuhi pengunjung.

Bus wisata juga dapat mencapai kawasan Benculuk, tetapi pengaturan titik parkir dan penurunan penumpang sebaiknya disesuaikan dengan kondisi saat kunjungan.

Akses kendaraan menjadi salah satu keunggulan De Djawatan dibanding beberapa tempat wisata Jawa Timur yang berada jauh di pegunungan.

Tempat Makan dan Kuliner di Sekitar

Benculuk merupakan kawasan yang cukup ramai sehingga mencari makanan tidak terlalu sulit.

Di sekitar jalan utama terdapat warung, rumah makan, minimarket, dan berbagai pilihan makanan lokal.

Setelah selesai berkunjung, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan ke kawasan Genteng atau Rogojampi untuk mendapatkan pilihan lebih banyak.

Jika ingin mencoba makanan khas, perjalanan menuju pusat Banyuwangi juga dapat dimanfaatkan untuk mencari kuliner Banyuwangi.

Beberapa menu khas yang dapat dicoba antara lain sego tempong, pecel pitik, rujak soto, nasi kalak, dan berbagai olahan hasil laut.

Wisata yang Bisa Dikunjungi Sekaligus

Pantai Pulau Merah

Pantai Pulau Merah Banyuwangi menjadi salah satu destinasi yang cocok dikombinasikan jika perjalanan dilanjutkan menuju bagian selatan.

Pantai ini terkenal dengan panorama laut dan bukit kecil di dekat garis pantai.

Pantai Mustika

Pantai Mustika dapat menjadi alternatif bagi wisatawan yang ingin menikmati pesisir setelah melihat hutan trembesi.

Karakter pantainya relatif berbeda dan dapat dijadikan tujuan sore.

Teluk Hijau

Jika mempunyai waktu lebih panjang, perjalanan dapat diarahkan menuju Teluk Hijau Banyuwangi.

Namun akses dan durasinya jauh lebih panjang sehingga sebaiknya ditempatkan dalam agenda tersendiri.

Pantai Grajagan

Pantai Grajagan berada di Banyuwangi Selatan dan dapat dipertimbangkan untuk perjalanan lanjutan.

Destinasi ini cocok untuk pengunjung yang ingin menggabungkan hutan dengan wisata pesisir.

Kawah Ijen

Kawah Ijen Banyuwangi mempunyai karakter yang sangat berbeda dan lebih cocok ditempatkan pada hari berikutnya karena pendakian biasanya dimulai dini hari.

Menggabungkan De Djawatan dan Ijen pada hari yang sama kurang efisien jika ingin menikmati keduanya dengan santai.

Rekomendasi Itinerary

Untuk perjalanan sehari di Banyuwangi bagian selatan:

08.00–10.00 WIB: De Djawatan.

10.00–11.00 WIB: perjalanan dan istirahat.

11.00–12.30 WIB: makan siang di kawasan Banyuwangi Selatan.

13.00–15.00 WIB: perjalanan menuju Pantai Pulau Merah.

15.00–17.30 WIB: menikmati Pantai Pulau Merah.

Sore–malam: kembali menuju penginapan.

Alternatif yang lebih ringan adalah mengunjungi De Djawatan pada pagi hari kemudian kembali menuju pusat Banyuwangi untuk wisata kuliner dan wisata kota Banyuwangi.

Untuk pilihan perjalanan daerah lain, rekomendasi destinasi wisata dapat membantu menentukan kombinasi tujuan.

Penginapan yang Paling Praktis

Pengunjung tidak harus menginap di Benculuk.

Jika agenda perjalanan lebih banyak berada di selatan Banyuwangi, kawasan Genteng atau sekitarnya dapat menjadi pilihan yang cukup strategis.

Wisatawan yang datang menggunakan kereta dan ingin mengeksplorasi berbagai wilayah dapat memilih penginapan sesuai stasiun kedatangan.

Jika perjalanan juga mencakup Kawah Ijen dan pusat kota, menginap di kawasan Banyuwangi Kota dapat lebih praktis.

Sementara wisatawan yang akan melanjutkan perjalanan menuju Pulau Merah dapat memilih akomodasi di Banyuwangi Selatan.

Pemilihan penginapan sebaiknya mengikuti keseluruhan rencana wisata Banyuwangi agar perjalanan tidak banyak menghabiskan waktu di jalan.

Siapa yang Cocok Berkunjung?

De Djawatan cocok untuk keluarga, pasangan, solo traveler, rombongan, pencinta fotografi, wisatawan alam, serta pengunjung yang tidak ingin melakukan aktivitas fisik berat.

Anak-anak dapat menikmati kawasan karena pohon-pohon besar memberikan pengalaman visual yang menarik.

Fotografer mempunyai banyak pilihan sudut, terutama saat cahaya matahari masuk di antara kanopi.

Lansia juga relatif dapat berkunjung selama kondisi berjalan masih baik.

Pengunjung yang mencari aktivitas ekstrem mungkin tidak membutuhkan waktu terlalu lama di sini karena kekuatan utama De Djawatan adalah suasana dan pemandangan.

Berapa Lama Waktu yang Dibutuhkan?

Kunjungan singkat: sekitar 45–60 menit.

Durasi tersebut cukup untuk melihat area utama dan mengambil beberapa foto.

Kunjungan santai: sekitar 1,5–2 jam.

Waktu ini ideal untuk berjalan, beristirahat dan menikmati suasana.

Fotografi atau rombongan keluarga: sekitar 2–3 jam.

Tidak perlu menyediakan satu hari penuh hanya untuk De Djawatan kecuali terdapat agenda fotografi khusus.

Karena durasinya relatif singkat, destinasi ini mudah digabungkan dengan tempat lain.

Hal yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Datang

Jumlah wisatawan dapat meningkat cukup signifikan pada akhir pekan dan musim liburan.

Jika tujuan utama adalah fotografi, keramaian dapat membuat pengambilan gambar lebih sulit.

Hari kerja menjadi pilihan yang lebih nyaman.

Kondisi tanah juga dapat berubah setelah hujan sehingga gunakan alas kaki yang tidak mudah licin.

Jangan mengharapkan area hutan yang benar-benar liar. De Djawatan merupakan kawasan wisata yang sudah dikelola dan mudah diakses.

Keunggulan utamanya justru terletak pada pohon trembesi tua, suasana rindang dan sejarah kehutanan yang menarik.

Tips Praktis Berkunjung

  1. Datang sekitar pukul 08.00 WIB untuk menghindari keramaian.
  2. Pilih hari kerja jika tujuan utama fotografi.
  3. Gunakan alas kaki yang nyaman.
  4. Bawa air minum secukupnya.
  5. Gunakan perlindungan dari matahari saat berjalan di area terbuka.
  6. Hindari memanjat atau merusak pohon trembesi.
  7. Jangan mencoret batang pohon.
  8. Datang setelah cuaca cerah jika ingin mendapatkan cahaya terbaik.
  9. Dampingi anak ketika menjelajahi kawasan.
  10. Gunakan area parkir resmi.
  11. Bawa uang tunai untuk tiket, parkir, atau warung.
  12. Kombinasikan perjalanan dengan destinasi Banyuwangi Selatan agar itinerary lebih efisien.

Pertanyaan Seputar De Djawatan

De Djawatan berada di mana?

De Djawatan berada di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Berapa harga tiket De Djawatan 2026?

Harga tiket berada di kisaran Rp7.500 per orang. Tarif dapat berubah mengikuti kebijakan pengelola.

De Djawatan buka jam berapa?

Jam operasional umumnya sekitar pukul 08.00–16.30 WIB.

Apa yang terkenal dari De Djawatan?

Daya tarik utamanya adalah pohon trembesi berukuran besar dengan percabangan lebar, kanopi rindang dan suasana hutan yang khas.

Apakah De Djawatan cocok untuk anak?

Ya. Kawasan relatif mudah dijelajahi dan tidak membutuhkan trekking berat. Anak tetap harus didampingi.

Apakah mobil bisa sampai lokasi?

Ya. Mobil dan motor dapat mencapai kawasan De Djawatan.

Berapa lama waktu ideal berkunjung?

Sekitar 1,5–2 jam cukup untuk kunjungan santai.

Kapan waktu terbaik mengambil foto?

Pagi dan sore menjadi pilihan terbaik karena cahaya matahari lebih lembut.

Apakah ada makanan di sekitar De Djawatan?

Ada warung dan pilihan makanan di kawasan Benculuk dan sekitarnya.

Apakah De Djawatan dekat Pulau Merah?

Keduanya berada di Banyuwangi bagian selatan dan cukup masuk akal dikombinasikan dalam satu itinerary, meskipun tetap membutuhkan perjalanan darat.

Apakah De Djawatan Layak Dikunjungi pada 2026?

De Djawatan layak dikunjungi jika ingin melihat sisi lain Banyuwangi yang tidak didominasi pantai dan gunung.

Pohon trembesi tua menjadi daya tarik yang benar-benar khas. Bentuk cabang, lumut, dan kanopi yang luas menciptakan pemandangan yang sulit ditemukan di banyak tempat wisata lain.

Harga tiket relatif murah dan akses kendaraan juga mudah.

Selain itu, waktu kunjungan tidak terlalu panjang sehingga De Djawatan dapat digabungkan dengan beberapa wisata Banyuwangi Selatan dalam satu hari.

Bagi wisatawan yang menyukai fotografi, sejarah kehutanan dan suasana alami yang teduh, tempat ini sangat layak dimasukkan ke itinerary 2026.

Rute dari Banyuwangi Kota ke De Djawatan

Dari pusat Kota Banyuwangi, perjalanan diarahkan ke selatan menuju Rogojampi kemudian Srono dan Cluring.

Rute sederhana:

Banyuwangi Kota → Rogojampi → Srono → Cluring → Benculuk → De Djawatan

Jarak perjalanan sekitar 30–35 kilometer.

Waktu tempuh umumnya sekitar 45–60 menit tergantung kondisi lalu lintas.

Jalur utama relatif mudah dilalui motor dan mobil.

Rute dari Jember

Dari Jember, perjalanan diarahkan ke arah Banyuwangi melalui jalur selatan.

Jember → Silo → Kalibaru → Glenmore → Genteng → Cluring → Benculuk → De Djawatan

Jarak perjalanan cukup panjang sehingga alokasikan sekitar 2,5–3,5 jam tergantung titik keberangkatan dan kondisi jalan.

Bagi wisatawan dari Jember, De Djawatan dapat menjadi salah satu tujuan sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi lain di Banyuwangi.

Rute dari Genteng

Genteng menjadi salah satu titik yang paling dekat dan praktis.

Genteng → Gambiran → Cluring → Benculuk → De Djawatan

Perjalanan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 20–30 menit tergantung kondisi lalu lintas.

Wisatawan yang menginap di Genteng dapat datang pagi lalu melanjutkan perjalanan ke kawasan selatan.

Rute dari Rogojampi

Dari Rogojampi, perjalanan diarahkan ke selatan melalui Srono.

Rogojampi → Srono → Cluring → Benculuk → De Djawatan

Waktu perjalanan sekitar 30–45 menit tergantung titik awal.

Rute ini juga cukup mudah bagi wisatawan yang datang dari kawasan Bandara Banyuwangi.

Rute dari Situbondo

Dari Situbondo, perjalanan melewati Banyuwangi bagian utara dan pusat kota sebelum menuju selatan.

Situbondo → Wongsorejo → Ketapang → Banyuwangi Kota → Rogojampi → Srono → Benculuk → De Djawatan

Perjalanan dapat membutuhkan waktu beberapa jam.

Jika datang dari Situbondo, sebaiknya De Djawatan dimasukkan ke itinerary yang sekaligus mencakup beberapa tujuan Banyuwangi.

Dari Stasiun Rogojampi

Stasiun Rogojampi menjadi salah satu titik kereta yang cukup praktis.

Dari stasiun, perjalanan dapat dilanjutkan menggunakan kendaraan sewaan atau transportasi darat menuju Benculuk.

Rute sederhana:

Stasiun Rogojampi → Srono → Cluring → Benculuk → De Djawatan

Waktu perjalanan sekitar 30–45 menit.

Kendaraan sewaan lebih fleksibel jika setelah De Djawatan ingin melanjutkan perjalanan ke pantai.

Dari Stasiun Kalisetail

Stasiun Kalisetail di kawasan Genteng juga dapat menjadi pilihan.

Dari sini, jarak menuju De Djawatan relatif lebih dekat dibanding dari Banyuwangi Kota.

Perjalanan dilanjutkan menggunakan kendaraan menuju Cluring dan Benculuk.

Rute sederhana:

Stasiun Kalisetail → Genteng → Cluring → Benculuk → De Djawatan

Pilihan ini cukup menarik bagi wisatawan yang datang dengan kereta dari arah Jember atau Surabaya.

Dari Bandara Banyuwangi

Bandara Banyuwangi berada di Blimbingsari.

Dari bandara, perjalanan menuju De Djawatan dapat dilakukan menggunakan kendaraan sewaan, taksi atau transportasi lain yang tersedia.

Rute secara umum:

Bandara Banyuwangi → Rogojampi → Srono → Cluring → Benculuk → De Djawatan

Waktu perjalanan sekitar 40–60 menit tergantung kondisi lalu lintas.

Jika tiba pagi, De Djawatan dapat menjadi salah satu tujuan pertama sebelum perjalanan diteruskan ke Pantai Pulau Merah.

Transportasi yang Paling Praktis

Kendaraan pribadi atau mobil sewaan menjadi pilihan yang paling praktis.

Motor juga nyaman digunakan karena akses jalan relatif mudah.

Wisatawan yang datang menggunakan kereta sebaiknya mempertimbangkan penyewaan kendaraan jika ingin mengunjungi beberapa tempat dalam sehari.

Transportasi umum antarkecamatan mungkin tersedia, tetapi fleksibilitasnya lebih rendah dibanding kendaraan pribadi.

Bagi wisatawan luar kota yang hanya mempunyai waktu singkat, menyewa mobil dengan pengemudi dapat memudahkan perjalanan ke De Djawatan sekaligus beberapa tempat wisata Banyuwangi 2026.

Penutup

De Djawatan memiliki karakter yang kuat melalui deretan trembesi tua, kanopi rindang, lumut pada batang, serta sejarah kawasan yang dahulu digunakan sebagai Tempat Penimbunan Kayu. Perpaduan antara sejarah kehutanan dan panorama alami membuat tempat ini berbeda dari destinasi pantai maupun pegunungan yang lebih sering dikaitkan dengan Banyuwangi.

Waktu kunjungannya relatif singkat, tiket terjangkau dan akses kendaraan mudah. Pagi hari pada hari kerja merupakan waktu yang paling nyaman jika ingin menikmati hutan dengan suasana lebih tenang dan mendapatkan pencahayaan yang baik untuk fotografi.

De Djawatan juga mudah dikombinasikan dengan Pulau Merah dan berbagai destinasi di Banyuwangi Selatan. Untuk menyusun perjalanan yang lebih luas, panduan wisata Indonesia dapat menjadi tambahan inspirasi.

Catatan: Harga tiket, tarif parkir, jam operasional, wahana, fasilitas, akses area tertentu, kondisi jalan dan kebijakan pengelola dapat berubah sewaktu-waktu. Sebaiknya periksa informasi terbaru sebelum berkunjung, terutama pada musim liburan atau ketika terdapat kegiatan khusus.

Keyword Terkait

De Djawatan Banyuwangi, De Djawatan Banyuwangi 2026, wisata De Djawatan, harga tiket De Djawatan, harga tiket De Djawatan 2026, jam buka De Djawatan, lokasi De Djawatan, alamat De Djawatan, rute De Djawatan, review De Djawatan, hutan trembesi Banyuwangi, De Djawatan Benculuk, wisata alam Banyuwangi, wisata Cluring Banyuwangi, tempat wisata Banyuwangi, wisata Banyuwangi, wisata Banyuwangi 2026, wisata Jawa Timur, tempat wisata Jawa Timur, wisata Jawa Timur 2026

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *